Quiet Quitting dan Budaya Kerja Gen Z: Antara Profesionalisme dan Keseimbangan Hidup

Opini0 Dilihat

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul istilah baru dalam dunia kerja yang cukup menyita perhatian, yaitu “Quiet Quitting”. Istilah ini bukan berarti seseorang benar-benar berhenti dari pekerjaannya secara diam-diam, melainkan menggambarkan sikap bekerja yang hanya sebatas menjalankan tanggung jawab sesuai jobdesk, tanpa mengambil beban lebih di luar jam kerja atau peran formal.

Fenomena ini menjadi tren di kalangan Generasi Z, terutama sejak pandemi COVID-19 mengubah banyak perspektif soal kerja, waktu, dan keseimbangan hidup.

Bersamaan dengan itu, muncul pula istilah-istilah seperti “Kerja Teng Go” dan “Lembur Thank You” yang turut memperkaya diskusi tentang perubahan perilaku kerja anak muda zaman sekarang.

“Teng Go” merujuk pada kebiasaan pulang tepat waktu begitu jam kerja selesai, sedangkan “Lembur Thank You” adalah sindiran halus terhadap perusahaan yang memberikan ucapan terima kasih sebagai ganti lembur tanpa kompensasi yang jelas.

Sebagian orang menganggap ini sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya loyalitas terhadap perusahaan. Namun di sisi lain, banyak yang melihatnya sebagai perlawanan halus terhadap budaya kerja yang menormalisasi overwork tanpa penghargaan.

Baca Juga :  Sains dan Agama sebagai Dua Sayap Kebenaran dalam Dunia Akademik yang Rasional

Fenomena yang Mewakili Perubahan Nilai

Gen Z tumbuh dalam era digital, di mana akses informasi, kesadaran mental health, dan budaya “work-life balance” jauh lebih terbuka dan terbincang dibanding generasi sebelumnya.

Mereka melihat pekerjaan bukan sebagai identitas utama, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus seimbang dengan aspek lainnya: keluarga, hobi, kesehatan mental, bahkan waktu untuk diri sendiri.

Bagi mereka, loyalitas bukan lagi diukur dari seberapa sering lembur, tapi dari seberapa efektif mereka menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu dan kualitas. Mereka lebih mengutamakan efisiensi daripada jam kerja panjang.

Dampaknya Terhadap Dunia Kerja

Fenomena quiet quitting membawa perubahan pada cara perusahaan harus memperlakukan karyawan. Perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem reward berbasis kehadiran fisik atau jam kerja panjang.

Mereka harus bertransformasi ke arah yang lebih humanis: fleksibilitas kerja, sistem kerja hibrida, transparansi beban kerja, dan pengakuan terhadap performa berbasis hasil, bukan sekadar jam.

Baca Juga :  Empat Mahasiswa USK Ikuti Asia Pasific Internet Engineering di Jepang

HRD dan manajemen dituntut untuk lebih memahami kebutuhan karyawan, membangun komunikasi dua arah, serta menciptakan ruang kerja yang sehat secara emosional dan profesional.

Jika tidak, bukan tidak mungkin tren quiet quitting berkembang menjadi “actual quitting”—karyawan yang benar-benar hengkang karena tidak menemukan nilai di tempat kerja.

Perspektif Komunikasi Organisasi

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat fenomena ini dari sudut pandang komunikasi organisasi. Quiet quitting pada dasarnya adalah bentuk komunikasi non-verbal: diam, pasif, namun mengandung pesan kuat tentang ketidakpuasan dan kelelahan mental. Sayangnya, banyak organisasi yang gagal membaca sinyal ini.

Jika komunikasi internal organisasi berjalan dengan baik, seharusnya manajemen dapat menangkap tanda-tanda tersebut sejak awal: mulai dari menurunnya antusiasme karyawan, meningkatnya ketidakhadiran sukarela, hingga minimnya partisipasi dalam kegiatan non-formal kantor. Semua ini bukan hanya masalah individu, tetapi cerminan dari kegagalan struktur komunikasi internal yang sehat.

Solusi dan Harapan

Fenomena quiet quitting seharusnya tidak ditanggapi dengan sikap defensif atau menyalahkan satu generasi. Sebaliknya, ini momentum untuk merefleksikan kembali budaya kerja yang sudah terlalu lama dianggap wajar: lembur tanpa dibayar, multitasking berlebihan, ekspektasi di luar batas manusiawi.

Baca Juga :  Mengapa Anak Malas Belajar? Ini Pandangan Psikoanalis dan Cara Mengatasinya

Solusinya bukan semata menuntut karyawan untuk lebih berkomitmen, tapi juga bagaimana organisasi mampu membangun iklim kerja yang memanusiakan manusia. Evaluasi beban kerja, transparansi jenjang karier, pelatihan soft skill, serta komunikasi terbuka antara atasan dan bawahan bisa jadi titik awal.

Dan buat kita sebagai calon profesional masa depan, penting untuk tetap menjaga etika kerja, profesionalisme, tapi juga tidak kehilangan jati diri. Bekerja keras itu penting, tapi menjaga kesehatan mental dan waktu pribadi juga tak kalah krusial.

Penutup

Quiet quitting bukan semata-mata tentang malas kerja. Ini adalah bahasa diam dari generasi yang ingin didengar, dipahami, dan dihargai. Dunia kerja sedang berubah, dan perubahan itu sebaiknya dijawab dengan empati, bukan resistensi.[]

Penulis :
Rismunandar Al Amin, Mahasiswa Universitas Pamulang

banner 300250