Pernahkah kita bertanya mengapa sebagian anak muda lebih mengenal bank konvensional dibandingkan bank syariah? Padahal, Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim yang besar dan memiliki potensi pengembangan ekonomi syariah yang sangat luas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah generasi muda belum memahami keuangan syariah, atau justru industri perbankan syariah yang belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan mereka?
Persoalan ini menarik untuk diperhatikan karena generasi muda merupakan salah satu kelompok yang akan menentukan arah perkembangan ekonomi Indonesia pada masa mendatang. Oleh karena itu, perbankan syariah perlu memahami perubahan perilaku, kebutuhan, dan ekspektasi generasi muda terhadap layanan keuangan.
Memahami Kesenjangan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan syariah Indonesia mencapai 43,42 persen.
Sementara itu, indeks inklusi keuangan syariah hanya sebesar 13,41 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman masyarakat mengenai keuangan syariah dan pemanfaatan produk serta layanannya.
Menariknya, kelompok usia 18–25 tahun memiliki indeks literasi keuangan umum sebesar 73,22 persen. Hal ini memperlihatkan bahwa generasi muda sebenarnya memiliki potensi pengetahuan keuangan yang cukup baik. Namun, pemahaman tersebut belum tentu membuat mereka memilih layanan keuangan syariah.
Perlu dipahami bahwa angka literasi dan inklusi syariah tersebut mencakup sektor keuangan syariah secara lebih luas, bukan hanya perbankan dan bukan pengukuran khusus generasi muda. Meskipun demikian, data ini dapat menjadi gambaran bahwa pengembangan ekosistem keuangan syariah masih menghadapi tantangan.
Bukan Hanya Persoalan Agama, tetapi Juga Kebutuhan
Salah satu anggapan yang sering muncul adalah bahwa masyarakat Muslim secara otomatis akan memilih bank syariah karena kesamaan keyakinan. Padahal, keputusan seseorang dalam memilih layanan perbankan tidak hanya didasarkan pada pertimbangan agama.
Generasi muda cenderung mempertimbangkan berbagai aspek, seperti kemudahan transaksi, kecepatan layanan, biaya administrasi, keamanan, serta kualitas aplikasi digital. Mereka menginginkan layanan yang praktis dan dapat diakses kapan saja.
Dalam kondisi tersebut, prinsip syariah memang menjadi identitas utama bank syariah, tetapi identitas saja tidak cukup. Bank syariah juga harus mampu memberikan pengalaman layanan yang kompetitif. Apabila masyarakat merasa layanan yang ditawarkan kurang praktis atau belum sesuai dengan kebutuhan, mereka mungkin akan memilih alternatif lain.
Dengan demikian, tantangan perbankan syariah bukan sekadar menjelaskan perbedaan bunga dan bagi hasil, melainkan membuktikan bahwa prinsip syariah dapat berjalan beriringan dengan inovasi dan kualitas pelayanan.
Tantangan Digitalisasi dan Kepercayaan Generasi Muda
Perkembangan teknologi telah mengubah cara generasi muda mengelola keuangannya. Transaksi melalui aplikasi, pembayaran digital, dan layanan perbankan tanpa harus datang ke kantor cabang telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi bank syariah. Digitalisasi seharusnya tidak hanya dipahami sebagai penyediaan aplikasi mobile banking, tetapi juga sebagai upaya menciptakan layanan yang mudah digunakan, aman, responsif, dan sesuai dengan kebutuhan nasabah.
Selain itu, kepercayaan juga menjadi faktor penting. Masyarakat perlu memahami bagaimana prinsip syariah diterapkan dalam kegiatan operasional bank, mulai dari pengelolaan dana, akad transaksi, hingga pembagian keuntungan. Transparansi tersebut dapat membantu mengurangi keraguan masyarakat terhadap praktik perbankan syariah.
Bank syariah juga perlu menghindari pendekatan pemasaran yang hanya menonjolkan label syariah. Nilai-nilai syariah seharusnya terlihat dalam kualitas pelayanan, kejujuran, keadilan, serta tanggung jawab terhadap nasabah.
Apa yang Harus Dilakukan?
Untuk meningkatkan ketertarikan generasi muda, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh industri perbankan syariah.
Pertama, meningkatkan inovasi layanan digital dengan memperhatikan kemudahan penggunaan, keamanan transaksi, dan kecepatan pelayanan. Kedua, memperluas edukasi keuangan syariah melalui media sosial, lingkungan kampus, serta kegiatan yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Ketiga, memberikan transparansi mengenai produk, akad, biaya, dan mekanisme bagi hasil agar masyarakat tidak hanya mengenal istilah syariah, tetapi juga memahami penerapannya. Keempat, menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa dan generasi muda, seperti tabungan dengan biaya terjangkau serta layanan transaksi yang praktis.
Upaya tersebut tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab bank syariah. Perguruan tinggi, pemerintah, regulator, dan masyarakat juga memiliki peran dalam membangun ekosistem keuangan syariah yang lebih kuat.
Saatnya Bank Syariah Beradaptasi
Rendahnya inklusi keuangan syariah tidak seharusnya hanya dilihat sebagai persoalan kurangnya pemahaman masyarakat. Industri perbankan syariah juga perlu melakukan evaluasi terhadap kualitas layanan, inovasi, strategi komunikasi, dan kemampuannya dalam membangun kepercayaan.
Generasi muda tidak cukup hanya diajak untuk menggunakan bank syariah karena alasan identitas keagamaan. Mereka juga perlu diberikan alasan yang rasional melalui layanan yang berkualitas, transparan, mudah diakses, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Pada akhirnya, masa depan perbankan syariah tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat prinsip yang dibawanya, tetapi juga oleh seberapa baik prinsip tersebut diwujudkan dalam kehidupan masyarakat. Bank syariah harus mampu membuktikan bahwa menjadi pilihan yang sesuai dengan prinsip agama juga dapat berarti menjadi pilihan yang relevan dengan kebutuhan masa kini.[]
Penulis :
Musyaffa Muhammad Syauqi, Mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, Universitas Islam Tazkia










