Di sebuah desa yang tenang, terbentang sawah luas berwarna hijau keemasan. Setiap pagi para petani datang dengan wajah penuh harapan. Mereka menanam, merawat, dan menjaga padi dengan penuh kesabaran.
Namun beberapa minggu terakhir, sesuatu yang aneh terjadi.
Saat matahari terbit, banyak batang padi ditemukan rusak. Bulir padi berserakan di tanah. Para petani saling memandang dengan wajah sedih.
“Siapa yang melakukan ini?” tanya seorang petani.
Malam berikutnya, mereka akhirnya mengetahui penyebabnya.
Dari balik semak-semak muncul seekor tikus besar berbadan gemuk dengan gigi tajam. Matanya berkilat dan langkahnya penuh kesombongan.
“Hahaha! Padi-padi ini sangat lezat!” kata tikus sambil menggigit batang padi.
Setiap malam ia datang. Ia makan sesuka hati dan merusak lebih banyak daripada yang ia makan. Semakin hari, ia semakin sombong.
“Tidak ada yang bisa menghentikanku!” katanya dengan suara keras.
Tak jauh dari sawah itu, di bawah gundukan tanah kecil, hiduplah ribuan semut merah. Mereka kecil, tetapi rajin dan hidup dengan disiplin.
Suatu sore, seekor semut pengintai datang berlari.
“Pemimpin! Tikus besar itu merusak sawah lagi. Para petani sedih melihat tanamannya hancur.”
Pemimpin semut merah berdiri di atas batu kecil.
“Kita mungkin kecil,” katanya tegas, “tetapi kita punya sesuatu yang tidak dimiliki tikus itu.”
“Apa itu?” tanya para semut bersamaan.
“Kebersamaan.”
Semua semut langsung bersorak.
Malam tiba. Angin bertiup pelan di antara tanaman padi. Bulan bersinar terang. Tikus besar kembali datang dengan wajah puas.
“Hahaha… malam ini aku akan berpesta lagi!”
Saat ia sedang menggigit padi, tiba-tiba suara kecil terdengar dari berbagai arah.
“Sekarang!”
Ribuan semut merah keluar dari sarangnya. Mereka bergerak seperti pasukan yang sudah terlatih. Tikus terkejut.
“Apa-apaan ini?!”
Semut-semut memanjat kaki, punggung, dan ekornya. Mereka menggigit dari segala arah.
“Aduh! Sakit! Pergi kalian!” teriak tikus sambil melompat.
Ia berlari ke kiri. Ia berlari ke kanan. Ia berguling-guling di tanah. Tetapi semut-semut itu terus menyerang dengan kompak.
Semakin lama tenaga tikus semakin habis. Napasnya menjadi berat. Kakinya mulai lemas. Akhirnya ia jatuh di tanah.
“Tolong… hentikan…” katanya dengan suara pelan. Pemimpin semut maju mendekat.
“Ingatlah, jangan pernah menyakiti orang lain hanya karena merasa dirimu kuat.”
Tikus menundukkan kepalanya karena malu. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi merusak sawah warga.
Para petani kembali tersenyum bahagia saat musim panen tiba. Padi tumbuh subur dan menguning di bawah sinar matahari.
Sementara itu, para semut merah kembali ke sarangnya dengan hati gembira. Karena mereka telah membuktikan bahwa tubuh kecil bukan berarti kekuatan kecil.
Pesan moral: Kesombongan membawa masalah, sedangkan persatuan dan kerja sama dapat mengalahkan kekuatan yang besar.[]
Pengirim :
Daffa Ibnu Hafidz, Seruway – Aceh Tamiang










