Panggung D’Academy: Antara Hiburan, Kejar Rating, dan Etika Siaran yang Terabaikan

Opini, Surat Pembaca67 Dilihat

Siapa disini yang tidak kenal dengan D’Academy? Ya, sejak pertama kali mengudara di Indosiar, program pencarian bakat dangdut ini menjelma menjadi ikon hiburan tanah air kita. Suara merdu para kontestan dari berbagai pelosok negeri, kemegahan panggung, hingga aksi kocak para juri dan pembawa acara selalu berhasil memikat perhatian jutaan pasang mata di seluruh Nusantara. Maka tak heran jika program ini konsisten menduduki jajaran papan atas pada peringkat rating televisi nasional.

Namun, di balik riuh gemuruh tepuk tangan pemirsa, panggung megah tersebut kerap terjerat dalam berbagai kontroversi. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tercatat telah beberapa kali melayangkan sanksi administratif teguran tertulis hingga penghentian sementara terhadap program ini. Fokus utama KPI bukan terletak pada kualitas vokal para peserta, melainkan bentuk interaksi antar para pengisi acara yang dinilai berulang kali melanggar etika dan regulasi penyiaran.

Saat ditayangkan secara langsung di jam tayang utama (prime time), D’Academy kerap menyuguhkan celetukan-celetukan yang spontan dari para juri maupun pembawa acara. Niat awalnya sangat sederhana, yaitu menghidupkan suasana dan mencairkan ketegangan kompetisi. Sayangnya, batasan humor yang sehat kerap terabaikan. Candaan yang ditayangkan diwarnai aksi saling ejek secara verbal, ucapan yang mengarah pada hinaan fisik (body shaming), hingga perdebatan emosional yang terkesan menyudutkan salah satu pihak. Bagi sebagian penonton, mungkin menganggap interaksi emosional semacam ini sekadar gimmick atau pemanis panggung saja. Namun dari sudut pandang regulasi media, kecenderungan ini memperlihatkan hadirnya unsur perundungan yang disamarkan menjadi sebuah hiburan semata.

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan bagi Seorang Perempuan, Mendorong Kesetaraan dan Kemajuan

Dalam kajian Etika Penyiaran, fenomena ini memperlihatkan dilema utama pada industri televisi yaitu tekanan pada rating yang melawan kepatuhan etis penyiaran. D’Academy tayang pada rentang waktu malam hari saat keluarga Indonesia, termasuk anak-anak dan remaja, berkumpul di depan layar kaca. Ketika figur publik yang populer menyajikan gaya komunikasi yang penuh ejekan dan ungkapan merendahkan, ada risiko besar perilaku tersebut dinormalisasi dan ditiru oleh penonton usia muda. Upaya mempertahankan perhatian para pemirsa agar tidak berpindah saluran, tim produksi dan pengisi acara kerap mengabaikan batasan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Tantangan terbesar biasanya sering muncul pada siaran langsung itu terjadi, ketika batas antara komedi dan pelecehan verbal menjadi sangat tipis ketika kamera sudah menyala.

Baca Juga :  Pendidikan Berbasis Bisnis

Sebagai pengguna frekuensi publik milik masyarakat, stasiun televisi memikul tanggung jawab untuk menyajikan nilai-nilai edukasi, bukan sekedar hiburan belaka. Mengorbankan standar moral demi mengejar popularitas sesaat jelas bukan strategis yang sehat bagi masa depan industri media. Agar program tetap memikat tanpa harus menurunkan aturan, ada beberapa solusi praktis yang bisa diterapkan oleh tim programming dan produksi

Upaya pencegahan harus diawali sebelum kamera menyala. Tim prosedur wajib memberikan pengarahan yang ketat kepada seluruh pengisi acara mengenai batasan materi yang haram dijadikan bahan gurauan. Selain itu, stasiun televisi dapat menerapkan sistem time-delay, jeda singkat ini memberikan kesempatan pada tim di ruang kontrol untuk langsung meredam atau memotong celetukan yang melanggar etika sebelum sampai ke layar kaca. Terakhir, esensi dari acara itu sendiri yang harus dikembalikan. D’Academy semestinya berfokus pada kualitas vokal dan perjuangan para peserta, bukan hanya mengandalkan pada konflik buatan atau sindiran fisik semata.

Baca Juga :  Kondisi Ketahanan Pangan di Indonesia

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah acara tidak hanya diukur dari seberapa tinggi ratingnya, tapi juga dampak yang ditinggalkan bagi penonton. D’Academy memiliki banyak potensi yang besar untuk terus melahirkan bintang-bintang dangdut baru, sambil tetap menjaga kualitas tayangan yang sopan dan mendidik.[]

Penulis :
Arralia Juana Anggraini, Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang

banner 300250