Isu Penculikan Anak Kembali Meresahkan Masyarakat

Ragam, Surat Pembaca21 Dilihat

Belakangan ini, isu penculikan anak kembali menghantui masyarakat, terutama para orang tua. Saat sedang bersekolah, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Hal itu membuat para orang tua tidak bisa mengawasi anak-anak mereka setiap saat. Dan anak-anak yang seharusnya bebas belajar dan bermain di luar, menjadi kurang leluasa beraktivitas karena mereka sangat rawan menjadi target korban penculikan.

Dalam berbagai kasus penculikan, sebagian besar anak yang menjadi korban berusia di bawah 10 tahun. Seorang anak yang mudah diperdaya dan belum mengenal betapa kejamnya dunia membuat para pelaku penculikan menjadi lebih mudah dalam melancarkan aksinya. Beberapa faktor yang menyebabkan mengapa anak-anak lebih berpotensi menjadi korban tindak penculikan dibandingkan dengan orang dewasa ialah karena pelaku penculikan memanfaatkan kerentanan, ketidakberdayaan, dan juga keluguan korban. Anak-anak lebih mudah diperdaya karena keluguan mereka, berbeda dengan orang dewasa yang lebih sulit dikelabuhi serta memiliki kemampuan untuk melawan.

Salah satu kasus penculikan anak yang terjadi baru-baru ini dialami oleh pelajar SD di kota Pangkalpinang, Bangka Belitung. Pelajar kelas tiga yang bersekolah di SD Negeri 9 Pangkalpinang itu nyaris menjadi korban penculikan yang terjadi pada hari Senin, 30 Januari 2023 yang lalu.

Percobaan penculikan itu terjadi saat jam pulang sekolah sekitar pukul 12.30 WIB. Saat itu, korban tengah menunggu jemputan. Tak lama kemudian, seorang pria asing yang baru saja turun dari mobil berwarna hitam tiba-tiba menghampiri dan menarik paksa tangan korban. Merasa tak kenal, korban pun tidak menggubris pria asing tersebut dan berhasil kabur setelah menggigit tangan pelaku yang memaksanya masuk ke dalam mobil. Pihak sekolah kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Baca Juga :  Dusun Bambu: Dari Lahan Biasa jadi Tempat Healing Favorit di Lembang

Akibat kejadian itu, korban mengalami trauma sampai tidak masuk sekolah selama dua hari. Pihak sekolah mulai mengetatkan penjagaan dan mengimbau para orang tua. Selain itu, pihak sekolah juga mengingatkan anak-anak agar jangan mudah percaya dengan ajakan orang yang tidak dikenal.

Di Indonesia, ada banyak kasus penculikan anak yang belum terselesaikan. Tidak sedikit orang tua yang masih meratapi nasib anak-anaknya yang hingga saat ini hilang karena menjadi korban penculikan. Menurut data Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), pada tahun 2023 kasus penculikan anak meningkat lebih banyak daripada tahun sebelumnya.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan anak-anak menjadi target korban tindak penculikan adalah sebagai berikut:

1. Pengawasan yang lengah
Longgarnya pengawasan para orang tua atau orang dewasa adalah penyebab utama terjadinya penculikan. Pengawasan ini penting dilakukan, terutama jika anak sedang berada di luar rumah. Sesibuk apa pun kegiatan orang tua, lingkungan bermain anak sangat perlu diperhatikan. Namun, dalam melakukan pengawasan, jangan sampai membatasi ruang gerak anak. Karena dikhawatirkan anak akan menghadapi mean word syndrome (sindrom dunia yang kejam). Dan ini tidak baik untuk perkembangan anak.

Baca Juga :  Peran Pancasila dalam Membangun Etika Kepemimpinan

2. Lingkungan
Peran masyarakat sekitar juga penting untuk menciptakan keamanan bagi anak. Pengawasan yang baik dan seimbang antara orang tua di rumah, masyarakat di luar, dan pihak sekolah ketika anak berada di sekolah menjadi pagar penting untuk menghindari tindakan penculikan anak.

3. Peran pemerintah
Pemeritah diharapkan ikut andil dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak. Saat ini, taman bermain anak mudah dijumpai, akan tetapi masih jarang disertai dengan fasilitas yang ramah anak.

4. Literasi digital
Literasi digital turut penting untuk ditingkatkan, orang tua diharapkan berperan aktif untuk meningkatkan kapasitas literasi bermedia sosial.

5. Kondisi ekonomi
Anak yang berasal dari ekonomi lemah, kerap menjadi target penculikan. Hal ini dikarenakan pelaku penculikan mengidentifikasi orang tua kelompok rentan baik dari segi ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Orang tua yang kesulitan membesarkan anak biasanya akan berimbas membentuk lingkungan pergaulan anak yang cenderung kurang aman. Ketika anak diculik, para orang tua yang kondisinya lemah akan panik, tetapi tidak bisa berbuat banyak.

Baca Juga :  Humidumi Kisahkan Perjalanan Hidup di EP “Nodus Tollens”

6. Personal pelaku
Didorong oleh faktor personal, yaitu kelainan atau perilaku menyimpang. Dari berbagai kasus yang terjadi, anak-anak yang menjadi korban penculikan sebagian besar diculik dengan tujuan sebagai objek kekerasan seksual pelaku, hingga ke tahap yang paling parah ialah dibunuh. Adapun faktor komersial yang bertujuan untuk mencari keuntungan ekonomi.

Harus diakui, melindungi anak agar tidak menjadin korban penculikan memang bukan hal yang mudah. Meningkatkan kepekaan orang tua, guru, dan masyarakat menjadi prasyarat awal dalam mengurangi angka penculikan anak. Namun, hal yang tidak kalah penting adalah mendidik anak agar selalu berhati-hati dalam menyikapi kemungkinan menjadi korban tindak penculikan. Anak-anak perlu disosialisasi bagaimana cara mengatasi situasi ketika ada orang asing yang mengajak atau pun memaksa mereka untuk ikut. Bahaya yang paling besar dan sulit ditangani anak ialah jika pelaku penculikan tersebut merupakan orang yang mereka kenal. Anak-anak yang masih lugu dan mudah percaya perlu diperhatikan titik lemahnya agar tidak menjadi korban penculikan.[]***

Pengirim :
Tya Vuspita, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung, email : tvuspitasari@gmail.com

banner 300250