Ketika Ditanya: Siapa Saudaramu? Jangan Sampai Kita Kehilangan Jawaban di Hadapan Allah

Agama, Opini45 Dilihat

Oleh : Tgk Abdullah bin Rusli*

Suatu hari nanti, ketika dunia telah berakhir dan manusia berdiri sendiri di hadapan Allah SWT, tidak ada lagi jabatan yang bisa dibanggakan, tidak ada harta yang bisa menyelamatkan, tidak ada nama besar yang mampu menolong. Yang tersisa hanyalah amal dan pertanggungjawaban.

Di antara pesan yang harus selalu kita renungkan adalah tentang persaudaraan. Sebuah pertanyaan yang menggugah hati: “Ma ikhwanuka… siapa saudaramu?”

Mungkin selama hidup kita sering mengatakan bahwa kita bersaudara. Namun, apakah kita benar-benar merasakan sakitnya saudara kita yang kelaparan? Apakah kita peduli dengan anak yatim yang kehilangan kasih sayang? Apakah kita melihat kesedihan keluarga fakir miskin yang berjuang bertahan dalam keterbatasan?

Baca Juga :  Mahasiswa Non-Muslim Australia Raih Gelar Doktor Pendidikan Islam di Kampus Muhammadiyah

Semua tanda tanya itu sulit mendapat jawaban, tak lain dikarenakan kadang kita terlalu sibuk mengejar kebahagiaan sendiri, sementara di sekitar kita ada hati yang sedang menangis diam-diam. Ada rumah yang hampir roboh, ada anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan, ada keluarga yang hanya berharap ada tangan yang mau membantu.

Allah SWT berfirman:

“Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin…”
(QS. An-Nisa: 36)

Ayat ini mengingatkan bahwa iman bukan hanya tentang ibadah kepada Allah, tetapi juga tentang kepedulian kepada manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit.”
(HR. Muslim)

Baca Juga :  Pemerintah Aceh upayakan 4 Pulau di Singkil kembali ke Aceh

Seorang mukmin tidak boleh merasa cukup ketika saudaranya masih dalam kesulitan. Sebab bisa jadi, pertolongan kecil yang kita anggap biasa, justru menjadi sebab Allah memberikan pertolongan besar kepada kita di akhirat.

Tgk Abdullah bin Rusli, Ketua BMU Aceh Timur, terus mengingatkan bahwa perjuangan membantu umat bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi sebuah tanggung jawab iman. Menolong sesama adalah cara kita membuktikan bahwa kita benar-benar memahami makna persaudaraan dalam Islam.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Jika hari ini Allah bertanya, “Siapa saudaramu?”
Apakah kita mampu menjawab dengan penuh keyakinan:
“Saudaraku adalah kaum muslimin dan muslimat, mereka yang membutuhkan kepedulian dan kasih sayang kami.”

Baca Juga :  Konsep Akuntansi Zakat

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ringan tangan membantu, lembut hati melihat kesulitan orang lain, dan dikumpulkan bersama orang-orang yang saling mencintai karena Allah.

Karena mungkin suatu saat nanti, bukan kita yang mencari pertolongan… tetapi kebaikan yang pernah kita tanam yang datang menolong kita.[]

*Penulis adalah Ketua Barisan Muda Ummat (BMU) Kabupaten Aceh Timur

banner 300250