Aceh Timur, TERASMEDIA.NET – Kelompok Kerja (Pokja) MONISA bersama Komunitas Penulis Sejarah Islam Asia Tenggara (PSIAT) menggelar pertemuan silaturahmi dan konsolidasi di Peureulak, Jumat (10/7/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dalam mewujudkan MONISA sebagai cagar budaya sekaligus situs sejarah peradaban Islam tertua di Asia Tenggara.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban itu dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, pemerhati sejarah, dan pegiat pelestarian budaya. Mereka menyamakan persepsi serta merumuskan langkah-langkah strategis guna mempercepat terbentuknya lembaga MONISA sebagai pusat pelestarian sejarah, penelitian, edukasi, dan pengembangan wisata religi.
Pemerhati cagar budaya MONISA, Sanusi A. Saman, mengatakan, upaya tersebut merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga sekaligus memperkenalkan warisan sejarah Islam yang dimiliki Peureulak kepada generasi sekarang maupun mendatang.
Menurutnya, Kerajaan Islam Peureulak memiliki nilai historis yang sangat penting dalam perjalanan penyebaran Islam di Nusantara. Karena itu, berbagai kalangan, mulai dari masyarakat, akademisi hingga pemerintah, diharapkan terus bersinergi untuk mendukung pengembangan kawasan MONISA sebagai pusat sejarah dan kebudayaan Islam.
“MONISA diharapkan tidak hanya menjadi sebuah monumen, tetapi juga berkembang menjadi pusat edukasi, penelitian sejarah, sekaligus destinasi wisata religi yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” ujar Sanusi.
Ia menjelaskan, berbagai kajian sejarah menyebutkan bahwa Kerajaan Islam Peureulak merupakan salah satu kesultanan Islam paling awal di Nusantara dan kerap disebut sebagai kerajaan Islam tertua di Asia Tenggara. Keberadaan dan perannya dalam sejarah juga telah menjadi pembahasan dalam berbagai seminar ilmiah, termasuk seminar internasional yang pernah dihadiri cendekiawan nasional, Prof. Dr. Hamka atau Buya Hamka, pada 1980.
Meski memiliki nilai sejarah yang tinggi, kawasan situs MONISA dinilai masih membutuhkan perhatian lebih, terutama dalam peningkatan infrastruktur pendukung. Akses jalan dan sejumlah jembatan menuju lokasi situs di Kecamatan Peureulak masih perlu dibenahi agar dapat menunjang aktivitas penelitian, pendidikan, serta kunjungan wisata sejarah.
Sanusi menegaskan, pelestarian situs sejarah tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga dan mengembangkan warisan sejarah Islam agar tetap lestari.
Melalui kolaborasi yang terus diperkuat antara Pokja MONISA, PSIAT, pemerintah, akademisi, dan masyarakat, MONISA diharapkan mampu berkembang menjadi kawasan cagar budaya yang tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Aceh, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran mengenai jejak awal peradaban Islam di Asia Tenggara bagi masyarakat nasional maupun internasional. [] M. Thaib/TM-W013










