oleh

Prokontra Ekspansi Mixue

Mixue ice cream and tea merupakan bisnis minuman asal Tiongkok yang dimiliki oleh Zhang Hongchao sejak tahun 1997. Ia mulai mendirikan mixue sejak ia duudk di bangku kuliah dan mulai tekun mengembangkan bisnisnya pada tahun 1999. Dan kemudian mendirikan kedai bernama Mixue Bingcheng ( MXBC ). Nama tersebut mempunyai makna sebuah istana es yang dibangun dengan salju yang manis.

Dengan bermodalkan uang sebesar CNY4 ribu yang jika dirupiahkan sebesar Rp 7 juta dari neneknya ia membuka usaha es ini. Produk utama yang is tawarkan adalah es serut, ice cream dan smoothies. Kemudian Zhang Hongchao mulai menambahkan teh susu ke dalam menu. Hongchao mengoperasikan bisnis ini hingga tahun 2007 dan mulai membuka waralaba (franchise).

Kemudian bisnis Zhang Hongchao tersebut berkembang dengan baik. Dan setelah ia mulai membuka bisnis ini ia membuka tawaran franchise yang bekerja sama dengan Zhengzhou Baodao Trading Co., Ltd . Ekspansi Mixue kemudian dimulai di Provinsi Henan pada tahun 2007, dan satu tahun kemudian jumlah gerai bertambah mencapai 180 gerai. Pada tahun 2018, Mixue Kembali mengekspansi beberapa negara di Asia, dimulai dari Singapura, Malaysia, dan Vietnam.

Mixue mulai membuka gerai di Indonesia pertama kali di Bandung pada tahun 2020. Namun dua tahun berjalan, gerainya sudah hampir mencapai 300 di seluruh Indonesia. Hanya ada beberapa kota saja yang belum terekspansi oleh Mixue. Sampai sampai menuai hujatan netizen seperti contoh, Mixue Satu, Tumbuh Seribu.

Pertumbuhan gerai tersebut tentunya tidak terlepas dari tingginya permintaan es krim, boba, dan milk tea yang menjadi produk utama mereka. Apalagi di Indonesia, karena hanya ada dua musim, yaitu. kering dan hujan, penjualan es krim biasanya lebih stabil daripada di negara-negara dengan empat musim. Lagipula, musim hujan dan rumor badai yang melanda pun sepertinya tidak menyurutkan minat warga untuk makan es krim. Anggap saja Mixue menjadi sahabat warga jika mood sedang kacau dan uring-uringan. Selain itu, harganya yang murah tidak akan menjadi alasan orang orang untuk mentraktir orang kesayangan mereka. Namun ada tiga kontroversi Mixue yang menarik perhatian warga Indonesia:

1. Pembukaan Gerai Secara Masif

Merek es krim asal Cina ini, kini memiliki lebih dari 21.000 toko di berbagai negara. Tak kurang dari 20.000 di antaranya berada di China. Pada tahun 2018, Mixue membuka toko luar negeri pertamanya di Hanoi, Vietnam. Di Indonesia, gerai Mixue Ice Cream & Tea pertama dibuka pada tahun 2020 di mal Cihampelas Walk di Bandung, Jawa Barat. Mixue menjadi buah bibir karena pembukaan besar-besaran cabangnya di Indonesia. Mixue menggunakan model bisnis franchise dan terus gencar menawarkan outlet kepada investor. Berdasarkan laman Instagram-nya, perusahaan China ini membuka kemungkinan bagi investor untuk membuka cabang di Padang, Pangkal Pinang, Binjai, Deli Serdang, Kampar, dan Bengkalis di Sumatra.

2. Harganya yang Murah

Mixue Ice Cream & Tea datang ke Indonesia ketika kebanyakan orang mengurangi pengeluaran tersier mereka seperti es krim. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, di Jakarta Pusat, misalnya, pengeluaran untuk es krim turun 0,6 persen year-on-year menjadi Rp5.811,84 per kapita per minggu pada 2020. Namun, Mixue Ice Cream & Tea berhasil berkembang berkat harga produknya yang terjangkau, khususnya bagi konsumen Indonesia. Namun harga yang murah tetap hadir dengan rasa yang enak dan kemasan yang rapi. Harga produk bervariasi mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 22.000. Konsumen bisa mendapatkan es krim bernama Boba Sundae hanya dengan Rp 16.000. Salah satu rahasia Mixue untuk menekan harga adalah dia mengendalikan rantai pasokannya sendiri dari ujung ke ujung. Rantai pasokan ini dikelola oleh anak perusahaannya. Selain rantai pasokan, Mixue juga mengelola logistiknya sendiri. Mixue adalah perusahaan waralaba pertama yang menawarkan logistik gratis di Tiongkok.

3. Belum Sertivikasi Halal

Pembukaan besar-besaran toko Mixue menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen. Salah satu isu yang muncul adalah sertifikat halal yang belum dimiliki Mixue. Melalui akun Instagram resminya, pihak manajemen Mixue mengaku produknya belum memiliki sertifikat Halal. Namun, bukan berarti Mixue tidak halal. “Perlu dicatat bahwa tidak memiliki sertifikat halal tidak sama dengan tidak halal,” tulis pengelola. Manajemen juga menjelaskan mengapa Mixue tidak mendapat sertifikat Halal. Karena 90% bahan bakunya didatangkan langsung dari China. Manajemen mengurus sertifikat Halal sejak awal 2021 dengan lembaga resmi Cina Shanghai Al-Amin. Namun, penutupan di negara tersebut membuat proses sertifikasi di China menjadi sulit. Namun, manajemen sedang bekerja untuk menyelesaikan proses sertifikasi. Mixu juga menegaskan bahwa produknya telah lulus BPOM dan mendapatkan sertifikat impor.

Meski begitu ada juga banyak hal yang dapat kita pelajari, seperti mulai mempelajari bagaimana caranya membuat bisnis yang stabil dan berkembang pesat, dan masih banyak lagi. Berikut beberapa contohnya; 1) Membangun bisnis tidak bisa instan. Patah itu biasa dan bangkit itu luar biasa; 2) Anda tidak perlu memunculkan ide besar, bahkan yang menurut Anda murah pun bisa menjadikan Anda miliarder dengan model bisnis yang tepat; 3) Campuran tersebut mendapatkan volume, dan produksi serta distribusi didukung oleh jumlah yang besar. Misalnya, jika Mixue membeli barang untuk persediaan, harganya pasti sangat murah. Dan jika mereka memproduksinya sendiri tentu akan sangat murah, karena produksinya ditujukan untuk puluhan ribu toko; 4) Kebijakan harga baik-baik saja. Menjual produk kelas menengah ke bawah di Asia Tenggara adalah langkah yang tepat; 5) Modal kecil, kualitas produk bagus, dan pengembalian investasi cepat. Dia mengatakan dia akan melihat pengembalian investasi dalam 12 hingga 18 bulan. Dalam kasus tertentu ada cabang yang menghasilkan keuntungan dari modal yang diinvestasikan dalam waktu 8 bulan; dan 6) Terakhir, dari segi brand, meski tidak ada yang menyombongkannya. Berkat harga yang murah dan toko yang strategis, hal ini menjadi perbincangan warga kota.[]***

Pengirim :
Yusrina Syirly Salsabiil Azzahra mahasiswa Program Studi Farmasi UMM, email : azzahrasyirly@gmail.com

banner 300250