Terkurung oleh Keadaan

Surat Pembaca0 Dilihat

Mau sampai kapan kita seperti ini? Terhitung dua tahun lamanya dan sudah 2 tahun juga kita hidup tanpa adanya ketenangan. Hidup ini seakan akan dihantui oleh sosok yang berada disana yang mengancam keselamatan manusia. Sosok itu telah menyebabkan perubahan sosial yang tidak direncanakan dan bahkan kehadirannya sangat tidak diharapkan dikalangan masyarakat.

Adanya pandemi covid-19 membuat pemerintah membentuk aturan aturan yang tidak sesuai dengan aktivitas kebebasan masyarakat indonesia dengan ini kita bisa melihat dari adanya pemberlakuan PPKM. Adanya PPKM ini memunculkan kondisi masyarakat yang belum siap menerima perubahan yang tentu dapat mengikis pola kebiasaan masyarakat dan yang mana kebijakan ppkm ini menghimbau masyarakat untuk belajar, bekerja, dan beribadah dirumah.

Baca Juga :  Ini Kabupaten dan Kota di Aceh yang Terapkan PPKM Mikro Level 3 dan 2

Lantas apa kabar pola kebiasaan masyarakat yang senang berkumpul dan bersenda gurau?Adanya pandemi ini seakan akan menuntut masyarakat untuk terbiasa melakukan pembatasan sosial. Pembatasan sosial yang kita rasakan saat ini layaknya sebuah penjara, dimana kita bisa beraktivitas namun disatu sisi kita juga terbatasi karena aturan aturan tersebut.

Diciptakannya pembatasan sosial dinilai memiliki dampak negatif yang bisa kita lihat pada lingkungan masyarakat saat ini. Sikap individualisme contohnya, semangat gotong royong sudah jarang terlihat dizaman ini karna adanya pembatasan sosial tersebut. Sikap individualisme ini pada dasarnya didorong oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Jika kondisi lingkungannya mengimpelmentasikan pembatasan sosial itu, maka bisa saja hal tersebut mendorong sikap individualisme tadi.

Baca Juga :  Revitalisasi Situ Kulong Minyak: Transformasi Bekas Tambang jadi Destinasi Wisata Baru di Belitung Timur

Pandemi covid ini seharusnya kita sikapi dengan baik dan kita lawan,bukan malah membiarkannya menguasai kehidupan kita. Sayangnya, selama pandemi ini kita seakan akan kehilangan sikap asli kita sebagai makhluk sosial yang gemar berinteraksi dengan sesama. Semoga saja kedepannya kita bisa mempertahankan ciri khas kebiasaan asli masyarakat Indonesia dengan terus berinteraksi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.[]

Pengirim :
Muhammad Hugen
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Bangka Belitung
Email : mhugen020716@gmail.com

banner 300250