Beberapa waktu lalu, saya kembali mendaki salah satu gunung yang sudah beberapa kali saya kunjungi. Udara yang sejuk, suara angin yang berembus pelan, dan pemandangan dari jalur pendakian masih memberikan rasa tenang seperti biasanya. Namun, ada satu hal yang membuat saya sedikit kecewa. Di beberapa titik jalur dan area perkemahan, masih terlihat bungkus makanan, botol minuman, hingga tisu yang ditinggalkan begitu saja.
Pemandangan itu membuat saya berpikir. Semakin banyak orang datang ke gunung untuk mencari ketenangan atau healing, tetapi apakah meningkatnya jumlah pendaki juga diikuti dengan meningkatnya kepedulian terhadap alam? Jangan sampai kita datang menikmati keindahan gunung, tetapi justru meninggalkan jejak yang merusaknya.
Belakangan ini, mendaki gunung memang menjadi aktivitas yang semakin populer, terutama di kalangan anak muda. Media sosial dipenuhi foto matahari terbit, lautan awan, hingga hamparan tenda yang berdiri di tengah alam terbuka. Tidak sedikit orang yang akhirnya tertarik mencoba mendaki karena melihat keindahan yang dibagikan orang lain. Menurut saya, hal tersebut bukan sesuatu yang keliru. Semakin banyak orang mencintai alam tentu merupakan kabar baik. Akan tetapi, kecintaan itu seharusnya tidak berhenti pada menikmati pemandangannya saja, melainkan juga diwujudkan melalui sikap saat berada di gunung.
Sebagai seseorang yang memiliki hobi mendaki, saya memahami bahwa setiap pendaki pasti membawa perlengkapan, makanan, dan minuman selama perjalanan. Namun, semua itu juga berarti ada tanggung jawab untuk membawa kembali sampah yang dihasilkan. Sayangnya, saya masih sering menemukan sampah yang ditinggalkan begitu saja di jalur maupun area perkemahan. Hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya mungkin terlihat sepele, tetapi justru dari kebiasaan kecil itulah rasa cinta terhadap alam dapat terlihat.
Selain persoalan sampah, saya juga merasakan adanya perubahan suasana di jalur pendakian. Beberapa tahun lalu, saya hampir selalu bertemu dengan pendaki yang saling menyapa, bertukar cerita, atau sekadar bertanya mengenai kondisi jalur. Sapaan sederhana seperti “Semangat, puncaknya sudah dekat,” atau “Hati-hati di turunan nanti,” mampu membuat perjalanan terasa lebih hangat meskipun belum pernah saling mengenal.
Kini, suasana seperti itu mulai jarang saya temui. Dalam beberapa pendakian terakhir, saya melihat sebagian pendaki lebih sibuk dengan kelompoknya sendiri atau mengabadikan momen untuk media sosial. Tentu tidak semua pendaki bersikap demikian. Masih banyak pendaki yang ramah dan peduli terhadap sesama. Namun, menurut saya, budaya saling menghormati yang dulu menjadi ciri khas dunia pendakian perlahan mulai memudar. Padahal, gunung mengajarkan bahwa setiap orang memiliki tujuan yang sama, yaitu sampai dengan selamat dan menikmati perjalanan bersama.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa healing bukan sekadar mencari tempat yang indah untuk beristirahat dari rutinitas. Healing juga seharusnya mengajarkan kita untuk lebih menghargai alam dan orang-orang yang berada di sekitar kita. Menikmati udara segar sambil tetap menjaga kebersihan, menghormati aturan pendakian, dan saling membantu sesama pendaki merupakan bentuk kepedulian yang tidak kalah penting dibanding sekadar mengabadikan foto di puncak.
Menurut saya, meningkatnya minat masyarakat untuk mendaki merupakan peluang yang baik untuk membangun budaya pendakian yang lebih bertanggung jawab. Komunitas pendaki, pengelola kawasan, maupun para pembuat konten di media sosial dapat ikut mengingatkan bahwa gunung bukan hanya tempat wisata, tetapi juga bagian dari alam yang harus dijaga bersama. Edukasi mengenai etika pendakian perlu terus disampaikan agar semakin banyak pendaki memahami bahwa setiap langkah yang mereka lakukan akan meninggalkan dampak bagi lingkungan.
Pada akhirnya, gunung tidak pernah meminta kita untuk datang. Kitalah yang memilih datang menikmati keindahannya. Karena itu, sudah seharusnya kita datang sebagai tamu yang menjaga, bukan sebagai pengunjung yang meninggalkan kerusakan. Bagi saya, keberhasilan seorang pendaki bukan hanya diukur dari berapa banyak puncak yang berhasil dicapai, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan alam dan orang-orang yang ditemuinya selama perjalanan. Sebab, puncak hanyalah tujuan, sedangkan sikap selama perjalanan adalah cerminan diri seorang pendaki.[]
Penulis :
Ismail Hasan, mahasiswa semester 4 Universitas Pamulang










